Jumat, 17 Juli 2015

siskamling

Karena para maling dan begal berkeliaran mengejar setoran agar tak  kalah dengan para koruptor, telah membuat situasi keamanan di kotaku menjadi tak kondusif. Sang walikota lantas menginstruksikan kepada semua warganya untuk melakukan siskamling. Tak terkecuali dan  segera. Dan tanpa menunggu lama, segenap ketua RT pun langsung mengomando warganya untuk berswadana dan bergotongroyong membangun pos ronda. Kalau tidak bisa-bisa dicopot jabatannya sebagai ketua RT.
Banyak pos ronda segera bertumbuhan di pelosok kota usai instruksi itu dikumandangkan. Bagai jamur di musim penghujan. Ada pos ronda yang jadi seadanya, yang penting ada. Ada yang lebar dan keren, plus dipulasi cat warna-warni. Dan ada juga pos ronda yang mewah, dilengkapi televisi dan dispenser. Macem-macem deh...
Gema instruksi walikota ini bergaung juga di tempatku tinggal. Lingkungan 01 RT 11 di kawasan pinggir kota. Bedanya, para warga di tempatku tinggal tidak perlu lagi bersusah payah membuat pos ronda karena kami sudah memilikinya. Kami hanya menerima jadwal ronda. Itu pun datangnya tiba-tiba. Tanpa musyawarah. Apalagi mufakat. Tapi apa daya... bukankah sebagai warga masyarakat yang baik ia harus mendukung dan berperan aktif dalam semua kegiatan di lingkungannya ? cie...
Tapi terus terang perasaan bercampur aduk saat membaca surat edaran itu. Ada perasaan sedih karena dengan adanya ronda malam berarti akan mengurangi jatah tidur malamku. Ada rasa penasaran karena baru kali ini aku terlibat kegiatan ronda malam. Ada juga perasaan senang karena bisa berjumpa para tetangga sekitar. Sekalian silahturahmi. Tapi kayaknya aku lebih merasa beruntung karena jatah rondaku jatuh pada malam minggu berarti esok paginya adalah hari minggu, hari libur. Jadi kegiatanku tidak terganggu dengan rasa kantuk setelah semalaman begadang dan selain itu bisa balas dendam tidur ha... ha... ha...
Waktu pun menggelinding cepat dan telah sampailah pada saat yang ditunggu-tunggu. Hari sabtu. Malam minggu. Waktu giliran jaga malamku. Semua persiapan telah dilakukan, mulai dari minum kopi, jaket, pentungan, dan terutama udah nyicil tidur dua jam.
Tepat jam sebelas, sesuai aturan yang ada di jadwal, aku meninggalkan rumah menuju pos ronda yang berada di seberang jalan, tepat di depan rumahku. Untung gak jauh... Sepi. Belum tampak satupun batang hidung teman sejawat lainnya. Tengok kanan. Tengok kiri. Serem. Gak ada orang satu pun. Gimana kalo yang nonggol malah om pocong, pakde gendruwo atau tante kunti wuih pasti serem deh. Segera kubuang jauh-jauh pikiran naif itu di dalam kegelapan malam. Kira-kira lima belas menit nongkrong di gardu sendirian. Masih belum ada temen. Ah biar rame... tong... tong... tong... kupukuli tiang listrik biar agak resmi sedikitlah. Sekalian cari temen.
Sepuluh menit kemudian muncul satu orang. Lumayan ada temannya. Tiga puluh menit kemudian di gardu jadi lima orang. Tepat satu jam berlalu delapan orang sudah terkumpul di gardu. Kalau sesuai surat edaran sih harusnya ada tiga belas orang. Lima orang lainnya gak tau kemana.
Setelah sedikit basa basi. Lalu dilanjutkan ngobrol ngalor ngidul. Terungkap bahwa tidak semua setuju dengan kegiatan siskamling ini. Ada yang bilang udah lelah usai kerja seharian kek... kalau week end ada kesibukan kek... gak tahan melek malam kek...gak tahan udara dingin kek... pembagian hari jaga gak konfirmasi dulu kek... Tapi ada pula yang setuju walau tidak banyak. Kesimpulan sementara banyak warga yang tidak setuju, titik.

Satu minggu berlalu. Dua minggu. Tiga minggu. Kegiatan ronda malam terus berjalan, tapi anggotanya makin berkurang. Segala cara dan daya dipakai untuk tidak siskamling misalnya ada seorang warga, sebut saja sukro, ia meminta pindah giliran jaga ke hari jumat. Tapi di hari jumat ia tidak datang. Jika ditanya oleh kelompok jumat, ia bilang sudah pindah di hari kamis. Tapi di hari kamis tidak datang. Jika ditanya oleh kelompok kamis, ia kembali bilang sudah pindah hari rabu dan seterusnya. Ada-ada saja si Sukro ini...

Ada juga yang berjuang dengan melempar wacana. Mengupah satu atau dua orang untuk menggatikan tugas siskamling. Lalu dibayar sekian rupiah. Beres. Lah tipe-tipe orang kayak begini nih biasanya ntar kalau sudah giliran di tengah-tengah nunggaknya duluan. Ada juga yang tak kalah seru usahanya agar kegiatan siskamling ini tidak berjalan yaitu dengan menyebar isu tentang hantu. Katanya ia pernah mendengar ada orang mukul-mukul tiang listrik. Lalu diikuti ke arah suara. Tapi suaranya kemudian berpindah-pindah. Sebentar ke sana. Sebentar lagi pindah lagi. Terus berpindah-pindah. Tapi orang yang yang mukul-mukul tiang listrik gak jelas siapa gerangan. Wuih seremnya... Tapi ada cerita yang lebih serem gak? Tanggung tau ceritanya...

Semua daya dan upaya dari para hater siskamling akhirnya melemah. Semuanya menemui jalan buntu. Alias gak mempan. Lagian pula sekarang malah muncul aturan baru, paska pertemuan warga RT, yang berbunyi bahwa jika ada warga yang tidak hadir saat giliran ronda maka akan dikenakan denda sebesar Rp 25.000,00. 

Yah.. mau gak mau... datanglah siskamling. Bukannya lebih banyak manfaat daripada mudaratnya misalnya pertama, bisa silahturahmi sekalian bertukar cerita dan pendapat. Syukur-syukur bisa ada deal bisnis batu akik kan lumayan. Kedua, lingkungan jadi aman. Dan ketiga, lumayan bisa menghemat Rp 25.000,00 seminggu.

Minggu, 05 April 2015

orang buta



Dalam suatu perjalanan ke tempat kerja, aku mengalami sebuah perjumpaan dengan dua orang buta yang saling menuntun. Keduanya menawarkan koran. Wow... setelahnya perasaanku bercampur aduk. Perasaan terharu tersembul dalam hati. Bayangkan, dua orang yang sama-sama tidak bisa melihat tapi saling menuntun. Berjualan koran pula. Bila ada orang yang membeli, bagaimana mereka mengenali lembaran uangnya? Lalu, bagaimana pula mereka menyusuki uang kembaliannya? Bukankah sepenuhnya akan mengandalkan kepercayaan saja pada sang pembeli. Bagaimana jika si pembeli iseng ? Ah, tapi tega betul jika mengisengi orang buta kayak mereka. 

Di sisi lain lagi, di otakku, yang tersembul malah rasa curiga. Ah... barangkali cuma sebuah strategi mencari uang belaka. Biar orang jatuh iba pada mereka lalu membeli koran dagangan mereka. Syukur-syukur diberi uang lebih karena iba ya toh... dua kali untung bukan! Aku pun berlalu dengan motorku menyisakan ceceran rasa penasaran, di sepanjang jalan, pada kedua orang buta itu.

Hari berganti hari. Dan, waktu pun berlalu dengan segera. Di setiap perjalananku, tidak kujumpai lagi kedua orang buta itu. Kutarik kesimpulan sederhana, ah... barangkali kedua orang itu bosan pura-pura jadi orang buta. Dan lagi pula tidak kuambil pusing... emang gue pikirin...

Hingga suatu siang aku berjumpa dengan seorang dari mereka. Sendirian. Menyusuri, perlahan, jalan yang tak rata dengan tongkatnya. Di tangan kanan, mengapit setumpuk dagangan koran hari ini. Aku berlalu. Tapi, kemudian berhenti kira-kira dua sampai tiga meter setelahnya. Hatiku di kuasai iba. Aku berputar. Menyusul orang buta itu. Berhenti kira-kira satu meter di depannya. Aku pun membeli koran. Kuselipkan selembar sepuluh ribuan di tangannya. Orang buta itu sempat bertanya “berapa uangnya?” Kujawab singkat, “ambil aja kembaliannya dan segera berlalu”. Aku kembali terharu. Bahkan lebih dari yang kemarin. Sekali lagi, luar biasa.

Tapi setelah itu. Kira-kira dua jam dari kejadian. Usai haru biru di hatiku reda. Akal mulai menguasai kembali. Sama seperti kemarin. Bagaimana jika kenyataannya kedua orang itu tidak buta. Dan, ini hanya sebuah cara belaka agar orang terperosok dalam iba. Dan aku adalah salah satu korbannya. Lama sekali aku terombang-ambing. Ah kutepis jauh-jauh pikiran itu. Terserah, mau pura-pura kek... Mau beneran... Pokoknya aku ikhlas titik ujarku dalam hati.

Selanjutnya sebuah pertanyaan yang menggelitik lalu muncul. Mengapa kok aku jadi curiga pada kedua orang buta itu? Hmm... mungkin dunia ini sudah terlalu dijejali oleh kepalsuan sehingga tidak ada lagi yang bisa dipercaya keasliannya. Lihat saja mulai dari gigi palsu, kaki palsu, merek palsu, duit palsu, obat palsu, jeans palsu, ijazah palsu, KTP palsu, akta nikah palsu, bahkan ada pula profesi palsu... Begitu ternyata begitu banyak kepalsuan dalam kehidupan ini. Dan, saking banyaknya yang palsu jadi sangat sulit membedakan mana yang asli.

Aku lalu membuka KBBI, mencari arti kata palsu. Palsu berarti tidak tulen, bisa pula termasuk perbuatan lancung/curang yakni perbuatan meniru dengan maksud menipu dan termasuk perbuatan yang tidak jujur atau curang. Lantas, mengapa bisa muncul yang palsu jika ada yang asli ? Bahkan seringkali malah yang palsu ini yang kemudian jadi pilihan utama.

Aku pun membacai buku-buku, mulai dari buku agama, sejarah, antropologi, filsafat, sosiologi, sampai ekonomi, mencari jawab atas pertanyaanku. Aku pun surfing di dunia maya. Masuk dari halaman ke halaman lain. Membacai artikel-artikel dalam blog. Pun untuk mencari jawab. Aku juga sempatkan berkonsultasi dengan seorang teman, pengajar ilmu sosiologi di salah satu universitas ternama di Surabaya, via surat elektronik. Sekali lagi untuk mencari jawab. Alhasil aku jadi bingung tujuh keliling. Bukan karena sulitnya permasalahan yang kutemui tapi mungkin karena akunya saja yang oon alias bego wkwkwk... Karena pusing akhirnya kutinggalkan begitu saja terserak di meja kerja. Hingga pada suatu malam. Kurang lebih hampir satu tahun berlalu. Baru kuperoleh jawabannya.

Berawal saat aku berkumpul bersama beberapa tetangga di gardu ronda. Di tengah-tangah pembicaraan setengah serius setengah santai. Dan, entah bagaimana pembicaraan tadi diawali. Tapi saat itu seorang tetangga, sebut saja Pak Unus yang berprofesi sebagai pengecer koran harian Tribin yang menguasai daerah pemasaran sepanjang Jalan Teuku Umar Bandarlampung, tengah beropini mengenai teknik pemasarannya yang dianggap andal.

“Kalo menurut saya, menggunakan anjal (anak jalanan) dalam penjualan koran merupakan cara yang ampuh untuk menaikkan oplah” ujarnya di tengah pembicaraan. “Mengapa ?” lalu tanyaku. “Mereka gesit mengejar pembeli,” jawabnya. Aku lalu menceritakan tentang teknik pemasaran yang pernah dipakai oleh sebuah koran nasional di Jogja. “Oh cara itu pernah dipakai oleh koran harian Lampes,” sambungnya. Kemudian Pak Unus melanjutkan,”bahkan koran harian Ridar memanfaatkan jasa orang buta dalam teknik pemasaran eceran.”

“Iya toh ?” aku tercengang.

“Yah... Harapannya jika melihat dua orang buta yang saling menuntun berjualan koran maka orang yang melihat akan jatuh iba dan membeli koran.” Ujar Pak Unus menjelaskan.

“Ha... Ha... Ha... Betul juga! ” aku tertawa tertawa terbahak-bahak. Kena deh...

Jumat, 27 Maret 2015

gondong = nggounduk


“Jangan pernah meremehkan hal yang kecil karena dari hal kecil itu berawal hal lain yang tidak kecil.”

 
Tidak ada angin, tidak ada hujan. Hari rabu pagi , di awal September 2014, saat bangun pagi cerita ini bermula. Pangkal leher dekat telinga terasa kaku bukan main. Kucoba gelengkan kanan kiri tapi masih terasa kaku. “Ah paling bentar lagi sembuh”, pikirku sambil membereskan tempat tidur untuk segera memulai ritual pagi hari. Mencuci popok anakku.
 
Usai mencuci popok badan terasa demam. Leher bertambah kaku. Ketambahan panas lagi di pangkal lehernya. Aku menyempatkan, sebentar berkaca, widih... mukaku tambah bulat. Kayak bulan sedang purnama. Ternyata pangkal leherku bulat. “Ma... pipiku kok bengkak yah ?” aduku pada istri. Tanpa memandang ia menjawab, “gondongan kali”.
 
“Widih dah tua kok masih kena gondong,” sahutku. “ntar pulang kerja ke chandramart beli blau terus diusap-usapin di bagian yang bengkak,” ia menasehati panjang lebar. “Blau... Emang mau nyuci!” sahutku. Dengan demam membara, aku pun pergi ke sekolah.
 
Hari ini kulewatkan dengan panas dingin. Seperti biasanya jika sedang terserang panas dingin alias demam, aku banyak minum. Semakin banyak minum. Semakin banyak kencing. Tapi ternyata panas tidak kunjung menjadi sejuk. Malahan sekarang “burung”-ku sakit jika harus berjalan buang kencing. Usai mengadakan penelitian sederhana pada tubuhku ternyata salah satu pusakaku bengkak. Waduh... bagaimana ini cuma punya dua, satunya bengkak. Kacau. “Kok pusakaku bisa ikut-ikutan bengkak ya mam?” Aku bertanya pada istriku. “Azab kali itu pa...” ujar istriku. “Enak aja,” jawabku sewot.
 
Di sekolah, di hari berikutnya, kusempatkan membuka artikel di internet. Usai buka sana buka sini ternyata aku benar-benar terserang gondong. Gondongan atau parotitis epidemika atau mumps adalah penyakit akut dan menular yang ditandai dengan pembesaran kelenjar ludah terutama kelenjar parotis. Kelenjar parotis ini terletak di depan telinga sehingga bila membengkak maka wajah seseorang tampak tembem dengan benjolan dari bawah telinga hingga bagian tengah pipi. Penyakit ini dapat menyerang siapa saja.
 
Penyakit ini tersebar di seluruh dunia dan dapat menyerang pada segala musim. Penyebab utama gondongan adalah virus dari golongan paramyxovirus. Setelah virus masuk kedalam tubuh, virus akan menuju epitel saluran pernafasan untuk memperbanyak diri kemudian virus menyebar ke seluruh tubuh melalui saluran getah bening menuju kelenjar ludah dan organ lainnya termasuk susunan saraf pusat (otak dan saraf spinal), pankreas, indung telur (ovarium), dan buah zakar (testis).
 
Hari ke tiga, tetap kulalui dengan pengabdian dan perjuangan. Tapi usai mengajar 3 jam akhirnya aku menyerah... Aku kibarkan bendera kuning eh putih. Menyerah. Aku minta ijin pulang. Gak kuat lagi... Kantung menyan ini terasa sakit bukan main saat naik turun tangga usai mengajar. Plus, tubuh yang panas membara. Kian menambah derita nestapa. Dan sampai saat ini, aku belum mau dibawa ke dokter. Takut disuntik...
 
Karena omelan bertubi-tubi dari istri, aku pun merelakan diri digiring ke rumah sakit (rumkit). Aku pun ke rumkit pinggir bypass. Usai diperiksa dengan seksama maka divonis harus opname. Tapi tidak ada kamar kosong. Jadi aku harus dikirim ke rumkit lain.
 
Ada tiga pilihan. Rumkit di jalan urip sumoharjo. Rumkit di jalan gajah mada. Rumkit di jalan wolter mongonsidi. Rumkit pilihan ketiga, tidak. Alasannya jauh. Rumkit pilihan pertama, sangat tidak. Alasannya banyak. Pertama, temanku dan tetanggaku matinya di sana. Jadi aku gak mau ntar ikut-ikutan mati di sana. Konyol, tapi mendasar bagiku. Kedua, aku pernah kecebur got di sana sampai seminggu gak bisa jalan. Ketiga, temanku pernah opname di sana dan kebanjiran. Keempat, tempatnya serem, katanya banyak hantu, atut... Dan didukung tidak alasan memberatkan memilih ke rumkit pilihan kedua maka aku pun setuju untuk di opname di rumkit pilihan kedua.
 
Ternyata jauh bara dari api. Gedung rumkit yang keren. Mentereng. Tidak menjamin pelayanan yang keren. Di rumkit ini aku terlantar. Tidak terurus. Emang sih fasilitas VIP tapi pelayanan kelas empat. Alhasil bukan jadi sembuh malahan pusakaku yang kanan ikutan temennya, bengkak. Cilaka dua belas...
 
Setelah tiga malam dua hari. Malam-malam sekali, istriku ditemani adik iparku bertekat sangat bulat untuk memindahkanku. Dan setelah melalui birokrasi yang ruwet dan bertele-tele, aku pun pindah ke rumkit pinggir bypass. Singkat cerita, aku, sudah menghabiskan empat malam lima hariku, delapan botol infus, lima botol suntikan, dan duit hampir tujuh juta rupiah. Semua karena gondong. Sakit gondong termahal yang kutahu... Huh, bikin nggounduk aja ni sakit. Makanya jangan pernah meremehkan hal yang kecil karena dari hal kecil itu berawal hal lain yang tidak kecil.

Sabtu, 21 Maret 2015

ngecer bensin

Mulutmu harimau mu. barangkali pepatah jadoel itu tetap up to date ampe sekarang. Aku pernah punya punya pengalaman keterkam ama harimauku alias mulutku sendiri. Ama tukang bensin dink... tapi gara-gara mulutku sih.

Jadi ceritanya sejak harga bensin naik, sebelum 1 Januari 2015 diturunin lagi, aku belum pernah beli bensin eceran. Selalu beli di SPBU. Suatu ketika bensin habis tanpa disadari karena indikator bahan bakar di dasbor motor mati. Kemudian pada sebuah pinggir jalan, aku merapatkan motor. Hinggap di lapak bensin eceran.
 
“Bang 1 liter,” pintaku pada sang penjual. Penjual pun tanpa cakap mengambil botol bensin dan menuangkan ke tangki motor. “Berapa bang ?” tanyaku sambil membuka dompet. “Sepuluh ribu,” ujar sang penjual dingin.
 
“Buset... Mahal amat... Mau cepet-cepet naik haji ya bang !” ujarku bersungut-sungut karena kaget mendengar harga yang dikatakan oleh penjual bensin.
 
“Emang di POM harganya berapa ?” balas si penjual tampak tak suka dengan celotehku.
 
“Delapan ribu lima ratus, tapi di tempat lain gak segini amat,” ujarku.
 
“Emang di tempat lain berapa duit jualnya ?” selidik si penjual.
 
“Sembilan ribu...” ujarku.
 
“Buset... Dimana tuh jualnya ? Gua borongnya !” ucap si penjual bensin agak keras.
 
Sambil agak kesal, segera aku memacu motorku pergi. Sebelum suasana bertambah keruh, pikirku. Sambil mengendarai motor, kuingat-ingat lagi di mana aku membeli bensin eceran harga sembilan ribu. Mau kutunjukin ntar ke penjual itu biar diborong. Astaga... ternyata itu sudah lama sekali. Kira-kira beberapa bulan lalu. Sebelum harga bensin delapan ribu lima ratus. Asem... jadi malu sendiri udah ngotot ama tukang bensin. Wedhus... pisuhku dalam hati.

*) remake status FB per 1 januari lalu, uteke buntet sih jadi harap maklum...


Minggu, 23 Maret 2014

bola itu bulat sih...

Entah siapa yang kali pertama berujar “bola itu bulat...” Yang jelas, di kemudian hari ujaran itu pun selalu jadi semacam rumusan pembenaran atas kejadian-kejadian tak masuk akal yang terjadi di dunia tendang menendang bola.

Masihkah ingat final Liga Champion tahun 1999, antara Manchester United dengan Bayern Munchen? Yah, Bayern Munchen dipaksa harus menyerah 2-1 di injury time. Padahal dalam 90 menit normal, Bayern Munchen sudah unggul 1-0. Huh menyesakkan, tapi mau gimana bola itu bulat sih...

Hal yang berulang kembali pada Bayern Munchen di Final Liga Champion 2012. Walau sudah bermain di kandangnya sendiri, yang secara otomatis mendapat tambahan pemain ke 12, dan sudah unggul 1-0. Tapi malapetaka bagi Munchen datang di menit ke 87 usai Didier Brogba berhasil menyarangkan gol. Kedudukan pun jadi imbang. Mau tak mau pertandingan terpaksa harus diakhiri dengan drama adu penalti. Walhasil Chelsea malah yang keluar sebagai juara. Apa mau dikata bola itu bulat sih... Sulit diprediksi!

Ada lagi sebuah fenomena menarik dalam dunia sepak bola yang terjadi di Liga Champion Eropa empat tahun terakhir ini. Fenomena ini berawal di kompetisi 2009/2010. Saat itu sang jawara adalah Internazionale Milan, tim asal negeri pizza, Italia. Hal yang membuatnya lalu menjadi menarik adalah karena kompetisi tahun lalu, secara kebetulan, digelar di Stadion Olimiade Roma, yang juga Italia.

Fenomena menarik ini sekali lagi terjadi di musim berikutnya, 2010/2011. Jawara Liga Champion Eropa kali ini adalah tim asal Spanyol, Barcelona FC. Dan ternyata final Liga Champion tahun lalu, 2009/2010, saat Internazionale Milan menjadi juara, digelar di Stadion Santiago Bernabéu Madrid, Spanyol. Kebetulan berulang lagi.

Sekali lagi kebetulan itu datang di tahun kompetisi 2011/2012, giliran klub asal Inggris yang berjaya. Chelsea tanpa terduga berhasil menjadi pemenang di pertarungan kasta tertinggi sepak bola Eropa. Final Liga Champion tahun lalu, 2010/2011, digelar di Stadion Wembley London, Inggris. Fenomena unik ini ternyata masih terus terjadi.

Pada tahun kompetisi 2011/2012, final Liga Champion diselenggarakan di stadion Allianz Arena Munchen, Jerman. Dan, yang terjadi di tahun 2012/2013, final Liga Champion mempertemukan dua wakil Jerman, All Germany Final. Bayern Munchen berhadapan dengan Borrussia Dortmund. Yang akhirnya dimenangi oleh Bayern Munchen dengan skor 2-1. Final Liga Champion 2012/2013 ini kembali berlangsung di stadion Wembley London, Inggris. Apabila fenomena kebetulan ini masih berlanjut, kemungkinan yang akan menjadi jawara Liga Champion Eropa di tahun 2013/2014 adalah tim berasal dari Inggris. Iya nggak...?

Ada empat tim asal liga Inggris yang bermain sampai babak 16 besar Liga Champion yakni: Arsenal, Manchester City, Manchester United, dan Chelsea. Arsenal sudah dipaksa menyerah oleh Bayern Munchen dengan skor agregat 3-1 Demikian juga dengan Manchester City. Tim asuhan Manuel Pellegrini ini pada akhirnya pun harus menyerah. Manchester City takluk dari tim asal Spanyol, Barcelona FC dengan skor agregat 4-1. Langkah kedua wakil Inggris itu harus  terhenti. Dan hanya jadi penonton di babak 8 besar. Sementara, tampaknya Dewi Fortuna masih menyayangi dua tim asal liga Inggris lainnya, Manchester United dan Chelsea.

Manchester United yang terseok-seok di Liga Inggris akibat ditinggal pelatih gaeknya, Opa Alex, tanpa terduga berhasil meloloskan diri dari lubang jarum. Setelah pada putaran pertama babak 16 besar dibantai 2-0 oleh tim asal Yunani, Olympiakos. Tapi, kemudian di putaran ke dua, di kandang sendiri, si Manchester Merah berhasil membalik keadaan dengan gantian membantai Olympiakos. Kali ini 3-0 untuk Manchester United. Tim asuhan Pakde Moyes ini pun lolos ke babak 8 besar dengan agregat 3-2. Luar biasa...

Lain lagi dengan Chelsea. Klub milik taipan kaya raya, Ibrahimovic, ini dipaksa bermain seri 1-1 di putaran pertama oleh tim asal Turki, Galatasary. Dan di putaran kedua, sang pemuncak klasmen sementara liga inggris ini, membantai Galatasary dengan skor 2-0. Dengan skor agregat 3-1, Chelsea pun melenggang ke babak 8 besar.

So... akankah Manchester United, yang di atas kertas, kali ini terpaksa harus tak diperhitungkan menjadi pemenang akan jadi jawaranya? Kayaknya sih hil yang mustahal mengingat di babak 8 besar akan langsung bertarung dengan sang juara bertahan Bayern Munchen. Tapi, Wallahu A’lam...

Ataukah sekali lagi Mr. Mou akan berhasil membuktikan bahwa dirinya benar-benar The Special One dengan menjadikan Chelsea sebagai juara? Kemungkinan bagi Chelsea masih terbuka, 50:50.  Mengingat lawan yang dihadapinya adalah Paris Saint Germain (PSG) yang meskipun tampil perkasa di Liga Perancis tapi tim ini masih miskin jam terbang di Liga Champion dibandingkan Mr. Mou dan Chelsea. Dan siapa tahu Chelsea diselamatkan oleh mitos “Kutukan Ibra...”

Akankah fenomena menarik ini kembali terjadi untuk ke lima kalinya. Aku tidak tahu. Anda tidak tahu. Siapa yang tahu? Habis bola itu bulat sih...

Selasa, 28 Januari 2014

wabah tepuk stik

sekeping prasangka di antara ricuhnya hubungan Indonesia dengan Malaysia



Semenjak konfrontasi antara Indonesia dengan Malaysia yang ditandai dengan diserukannya Dwi Komando Rakyat (Dwikora) oleh Bung Karno di tahun 1964. Persaingan kedua negara ini lalu jadi selalu menarik di segala bidang. Di bidang olahraga misalnya, keduanya tidak cuma sengit bersaing tapi sudah menjadi musuh bebuyutan di arena SEA Games. Bahkan di cabang bulu tangkis dan juga di cabang sepak bola, keduanya merupakan rival abadi. Garuda Indonesia selalu bertukar terkam dengan cakaran harimau Malaysia. Sampai-sampai ada ungkapan di Indonesia yang berbunyi boleh kalah dengan negara manapun asal jangan sampai kalah dengan Malaysia. Tidak cuma di bidang olahraga, dalam bidang hankam, ekonomi, dan budaya pun keduanya tidak lepas dari percik-percik api persaingan.

Di bidang hankam, Indonesia dengan Malaysia berseteru memperebutkan blok laut Ambalat yang terletak di Selat Makasar. Sempat terjadi beberapa gesekan di antara pihak militer Malaysia dengan pihak TNI. Misalnya di tahun 2005, terjadi insiden Kapal Republik Indonesia Tedong Naga (Indonesia) yang menyerempet Kapal Diraja Rencong (Malaysia) sebanyak tiga kali. Kemudian, di tahun 2007, terjadi dalam dua hari berturut-turut, kapal milik Malaysia yaitu KD Budiman dan KD Sri Perlis memasuki wilayah maritim Indonesia tanpa ijin sejauh satu mil. Dan pada hari  yang sama, satu pesawat udara patroli maritim Malaysia melintas memasuki wilayah Indonesia sejauh 3.000 yard (Sumber: Wikipedia).

Di bidang ekonomi, Malaysia selalu dipusingkan dengan tenaga kerja asal Indonesia (TKI) yang legal maupun ilegal. Menurut Agus Triyanto, Atase Ketenagakerjaan Kedutaan Besar Republik Indonesia, di Malaysia, terdapat TKI legal sekitar 1,089 juta orang dan TKI ilegal sekitar 1,5 juta orang (sumber : jabar.tribunnews.com). Sementara Indonesia dipusingkan karena kurangnya perlindungan terhadap para TKI. Banyak TKI yang bekerja di Malaysia mengalami nasib yang tidak baik, mulai dari upah yang tidak dibayar, penyiksaan fisik, sampai dijadikan pelacur (baca : Ironi Pahlawan Devisa, Penerbit Buku Kompas, 2005).

Di bidang budaya, Indonesia berkali-kali dibuat berang karena beberapa budaya asli milik Indonesia seperti tarian adat (Reog ponorogo, Pendet, Kuda Lumping, dan Tor-Tor), batik, lagu rasa sayange, alat musik angklung milik Indonesia dan beberapa masakan tradisional diaku-aku oleh negeri Jiran sebagai budayanya. Dan kalau tak salah ingat kayaknya setelah kejadian itu, di Indonesia lalu muncul hari batik nasional.

Sebetulnya tidak cuma itu, ada hal menarik lagi yang lain, tapi karena dianggap tidak fundamental lalu lantas tak mendapat perhatian. Perhatikan saja, anak-anak Indonesia empat sampai lima tahun belakangan ini amat sangat menyukai film animasi Malaysia berjudul Ipin dan Upin bahkan terhipnotis olehnya. Lalu lihatlah... mulai dari tas, kaus oblong, tempat bekal makan, sandal jepit sampai CD bajakan didominasi oleh Ipin dan Upin. Ipin dan Upin pun jadi semakin populer. Bahkan kepopulerannya melampaui Donald bebek dan Micky mouse. Apesnya, Unyil dan Si Komo yang asli bikinan anak negeri sendiri jadi gak ada apa-apanya.

Bukan tak punya jiwa nasionalis, bukan pula tak cinta produk dalam negeri. Tapi hal yang tidak bisa dipungkiri, sungguh memang menarik bila menonton film Ipin dan Upin. Ceritanya ringan. Beberapa kosakata bahasa Malaysia sengaja tidak dialihbahasakan sehingga terkesan lucu tapi malah jadi ciri khas dan akan selalu diingat. Dan hal terpenting adalah film ini dalam kemasan animasi yang cocok dengan selera anak-anak jaman sekarang. Tidak seperti Unyil, yang semenjak aku nonton di sekitar awal tahun 1990an, pakaiannya tidak pernah ganti-ganti. Selalu saja menggunakan baju merah, bercelana hitam, berselempang sarung kotak-kotak dan menggunakan peci hitam. Bila berjalan selalu megal-megol. Atau si Komo yang baru beken beberapa tahun eh... tahu-tahu sudah hilang entah kemana. Barangkali, ia nyumput, takut dimarahi orang banyak karena selalu menyebabkan kemacetan dimana-mana.

Ada hal lain yang jauh lebih penting dari itu yang sebenarnya tidak disadari oleh kita. Beberapa tahun ini telah muncul semacam wabah yang menjangkiti anak usia SD. Wabah ini merupakan efek domino menonton film Ipin dan Upin. Wabah yang dimaksud adalah kebiasaan menepukkan-nepukkan tangan. Kebiasaan ini muncul akibat bermain tepuk stik. Film Ipin dan Upin lah yang kali pertama mempopulerkan permainan ini karena di Indonesia sebelum adanya film ini tidak ditemui atau terlacak adanya permainan semacam ini. Permainan ini relatif mudah. Hanya membutuhkan stik yang biasa digunakan sebagai gagang pegangan es krim. Dua anak saling duduk berhadapan lalu menepuk kedua tangan ke lantai. Lalu akan muncul angin dan bunyi puk... puk... Angin yang keluar dari tepukan tangan akan menggerakan stik es krim. Kedua stik lama-lama akan bertemu. Stik yang berhasil menindih milik lawan akan menjadi pemenang. Lalu sang pemenang menerima bayaran atas kemenangannya.

Menepuk-nepukkan tangan selama permainan ini lama-lama menjelma jadi sebuah kelatahan. Anak-anak selalu menepukkan tangannya di mana saja dan kapan saja walau pun ia sedang tidak bermain tepuk stik. Saat melamun. Di rumah saat belajar. Di sekolah sambil mendengar penjelasan guru. Atau, sambil mengobrol baik dengan orang tua atau dengan sebayanya. Tangannya terus menepuk-nepuk. Sepertinya itu terjadi secara otomatis. Terjadi di bawah kesadaran mereka. Menjadi gerakan relfektif. Gerakan badan di luar kemauan. Dan perilaku ini terjadi serentak dan muncul bersama-sama. Oleh karena itu bisa disebut sebagai sebuah wabah. Pertanyaan selanjutnya, apakah kelatahan ini berdampak negatif bagi psikologis anak? Atau cuma gejala psikologis sementara saja? Butuh penelitian lebih dalam untuk menjawabnya.

Tapi yang terpenting, ada dampak lainnya yang bisa lebih berbahaya, yaitu (1) anak-anak berperilaku konsumtif karena untuk mendapatkan lima bilah stik seorang anak harus merogoh kocek seribu rupiah. (2) Konsentrasi mereka terganggu karena sebentar-sebentar mereka reflektif menepuk-nepukkan tangan. (3) Anak-anak menjadi lupa waktu. Bila sudah bermain tepuk stik, bisa menghabiskan waktu berjam-jam. Tanpa merasa haus dan lapar. Apalagi mengingat belajar atau membantu orang tuanya. (4) dan yang paling mengkhawatirkan adalah anak-anak jadi tidak mengenali budaya bangsanya sendiri. Ada banyak permainan tradisional dalam budaya Indonesia misal cak ingkling, patil lele, egrang, petak umpet, dan bentengan. Semuanya jauh lebih menarik daripada bermain tepuk stik.

Stt... jangan-jangan ini ulah spionase Malaysia yang sengaja menyusupkan virus ke dalam bawah sadar dan perilaku anak-anak Indonesia. Yang memang dampaknya tidak langsung terasa saat ini tapi di kemudian hari baru terasa. Setelah kian populer permainan ini lalu kian bertambah banyak anak Indonesia yang bermain tepuk stik. Permainan-permainan tradisional semacam cak ingkling, patil lele, egrang, petak umpet, bentengan pun jadi semakin tidak populer dan terlupakan. Maka selanjutnya Malaysia segera akan mengklaim permainan-permainan tradisional asli Indonesia itu menjadi budaya mereka.

Huh... ada-ada saja! Tapi, kalau mengingat-ingat perseteruan abadi antara Indonesia dengan Malaysia, aku jadi ingat ketika berada di kawasan Malioboro Yogyakarta, kala itu sedang berlangsung semarak unjuk rasa anti Malaysia. Secara tidak sengaja aku mendengar orasi nyeleneh dari sang orator, kurang lebih bunyinya “jangan nonton film Ipin dan Upin! Ipin dan Upin itu anak haram! Gak jelas ibu dan bapaknya !”

Minggu, 17 November 2013

kebanan

Jika boleh meminjam istilah biduan Syahrini, maka aku akan mengatakan bahwa pecah ban atau dalam bahasa jawanya kebanan benar-benar merupakan suatu peristiwa yang sesuatu banget... Apanya yang sesuatu banget ? Yah sesuatu yang terasa sangat menjengkelkan. Dimana kita merasa tiba-tiba menjadi seseorang yang paling sial. Plus paling menderita karena harus mendorong jauh motor kita. Apalagi bila sudah sekian jauh tak kunjung menemukan tukang tambal ban. Ditambah lagi bila terjadinya di tengah siang bolong. Sungguh perasaan paling sial dan paling menderita bertubi-tubi menghujami hati seiring keringat yang deras mengalir.

Pernah kejadian, di suatu saat setelah pulang dari gereja. Di parkiran gereja aku mendapati ban motorku kempis. Dan manalagi dalam dua hari ini terhitung sudah lebih dari tiga kali aku mendapati ban motorku kempis. Uuh... rasanya hendak misuh-misuh tapi kok yah gak pantes karena baru aja pulang dari gereja. Tapi kalo gak misuh-misuh, malahan lalu bersyukur kok yah gak wajar juga jadi manusia... akhirnya cuma bisa ndongkol di hati. Kusurung motor ke sana-sini. Kok gak ada bengkel tambal ban yang buka? Bingung. Mau terus ke kiri atau balik ke kanan. Ntar milih kanan jebule tukang tambal ban di kiri. Milih kiri jebule ntar gak ada tukang tambal ban di sana. Inilah penderitaan tersendiri yang tadi kukatakan... sesuatu banget.

Dan, hingga pada suatu ketika, waktu masih pagi-pagi benar sudah nungguin tukang tambal ban menggelar bengkelnya. Aku mendapat sebuah pencerahan. Penemuan hakikat dari pecah ban. Filosofi yang tersembunyi di balik peristiwa pecah ban. Mau tau ???

Pecah ban berarti belajar melayani. Maksudnya? Bayangkan sudah berapa kilometer motormu sudah kau tunggangi. Kesana-kesini. Melayani tanpa ada keluhan. Dan, tanpa ada ptotes. Nah dengan adanya kejadian pecah ban ini, sekali-kali lah gantian kita melayani motor kita. Dengan telaten menuntunnya. Dengan sabar jalan hilir mudik. Ke sana-kesini. Mencari-cari si tukang tambal ban.

Pecah ban berarti belajar sabar. Kita harus berhenti sebentar. Melihat gerangan apa yang menyebabkannya. Bila ban kempis karena kecucuk paku maka cabutlah dulu paku itu. Lalu, dengan telaten menuntun motor. Bila tidak, lalu kita paksa terus menungganginya menuju tempat tambal ban. Akibatnya akan lebih fatal. Paku akan mengoyak-ngoyak ban dalam. Atau, ban dalam jadi sobek dekat pentilnya. Akhirnya ban dalam pun tidak bisa ditambal, harus diganti. Bila menambal cukup dengan membayar delapan ribu rupiah, tidak dengan ganti ban dalam. Isi kantong akan dirogoh lebih dalam. Lenyaplah kocek lebih banyak. Kira-kira tiga puluh enam ribu rupiah banyaknya. Apalagi bila dipentung harga oleh si tukung tambal ban bisa lebih banyak kocek yang dilkeluarkan. Efek lain dari kita memaksa menunggangi motor kita yang sedang menderita itu adalah pelek ban bisa jadi peyok. Dan jika peyok maka harus setel pelek dan jari-jari. Dan itu bisa menghabiskan dana kira-kira tujuh puluh ribu. Lebih fatal dan mahal bukan ?

Pecah ban itu menyehatkan. Kok bisa sih? Lah jaman sekarang kita kalau hendak pergi kemana-mana terbiasa naik motor. Dekat, naik motor. Apalagi pergi jauh. Jadi gak kebiasa jalan kaki. Padahal jalan kaki itu sehat loh... Lah dengan mendorong motor kita jadi terpaksa jalan. Kesana-sini nyari tukang tambal ban. Lalu keringatan. Jadi sehatkan?

Hmm... ternyata ada makna tersembunyi di balik ban motor yang pecah. Yah tapi tetaplah boleh misuh-misuh bila tahu ban kempis. Tapi sebentar aja yah... karena dengan misuh-misuh, itu menandakan bila kita masih jadi manusia.Tombo ndongkol dab !!!