Minggu, 14 Juli 2013

Tinju


Emang kenapa sih harus nonton tinju ? Apa coba menariknya tinju ? Orang gebuk-gebukan gitu ditonton. Selalu pertanyaan dan pernyataan itu yang terus kumunculkan saat entah teman, tetangga, pakde, paklik, kakak ipar, bapakku, atau bapak mertua, atau siapa saja memilih nonton siaran langsung pertandingan tinju di televisi. Lalu, jika pertanyaan dan pernyataan yang kulempari itu tetap saja membuat sang penguasa remote control bergeming maka lebih baik bagiku berlalu, mencari kegiatan lain.
Dan, kenapa juga tinju mesti diakui sebagai salah satu bentuk olahraga ? Kan mestinya olah raga itu gerak badan untuk menguatkan dan menyehatkan tubuh. Apakah tinju membuat tubuh seseorang jadi sehat ? Yah, ketika berlatih saat mempersiapkan pertandingan. Tapi, ketika bertanding ? Tidak. Muka jadi babak belur. Pelipis sobek. Mata bengep-bengep. Bibir pecah, berlumur darah. Kemudian jatuh tersungkur tak sadarkan diri, KO atau TKO. Bahkan mati. Wikipedia mencatat sudah banyak petinju yang mati. Di Indonesia saja, dari tahun 1948 sampai 2013 tercatat sudah 30 orang petinju mati. Belum lagi para petinju terancam akan mengalami kerusakan ginjal, gejala sindrom parkinson, atau kerusakan selaput membran otak karena terlalu banyak mengalami pukulan, jadi kayak Muhammad Ali tuh... Coba dibandingkan dengan cabang olah raga yang lain semisal renang, senam, lari, atau bila dibandingkan dengan olah raga bela diri yang lain semacam kempo, judo, atau pencak silat. Ada petarungan tapi tanpa saling menyakiti. Tanpa kekerasan. Dan, tanpa darah yang berceceran.
Tinju tuh lebih tepatnya disebut hiburan. Mengapa ? Karena nggak ada bedanya dengan sabung ayam ? Atau dengan adu cupang ? Lihat aja ketika kedua petinju saling bertukar pukulan. Saling melempar jab. Membalasi dengan saling straight. Lalu memberikan hook yang bertubi-tubi. Bergantian menguppercut . Penonton pun bersorak. Jadi histeris. Semakin ramai jual beli pukulan. Semakin keras sorak-sorai. Dan, ketika salah satu petinju mulai berdarah. Terhuyung. Lalu ambruk. Sorak-sorai itu kian menjadi-jadi. Sang pemenang pun disambut bak pahlawan. Bergembira karena petarung jagoannya tetap berdiri sementara petarung satunya lagi ambruk bersimbah darah. Atau malah mati. Sama kan dengan sabung ayam ? Ada darah. Ada yang terluka atau mati. Ada sorak sorai. Ada kepuasan. Ada kegembiraan. Ada hiburan. Kenapa petinju yang kalah gak dibeleh aja sekalian, lalu dimasak jadi gulai kayak ayam yang kalah.
Bila dipikir-pikir kok jadinya lebih berharga ayam daripada manusia. Bila ada arena sabung ayam, polisi atau organisasi masyarakat yang sok agamawi segera menggerebek. Menangkap para pelaku. Kadang pula menyita ayam-ayam untuk jadi barang bukti. Dan, memberitakannya di televisi sebagai sebuah kriminalitas. Tapi, ketika ada pertandingan tinju, mengapa polisi atau organisasi masyarakat yang sok agamawi itu kok tidak menggerebek ? Kenapa kok mereka tidak menangkapi para penonton dan promotor ? Lalu menyita sarung tinju atau ring tinjunya sekalian untuk dijadiin barang bukti ? Apakah alasannya karena di dalam sabung ayam jadi arena perjudian ? Jika begitu alasannya, dalam tinju ada pula judi. Barangkali para penggerebek itu kecipratan rejeki ketika pertandingan tinju digelar. Bila begitu, bukankah bisa diartikan bahwa adu ayam itu tidak boleh, tapi adu manusia boleh. Kan, bisa berarti pula bahwa ayam lebih berharga dari manusia dong ?
Mengapa masih saja ada orang yang menggemari nonton tinju ? Mengapa mereka begitu bersorak-sorai ketika semakin banyak pukulan yang terjadi ? Mengapa mereka sangat terhibur saat ada salah satu petinju yang jatuh tersungkur, KO atau TKO ? Apakah berarti mereka menyukai kekerasan ? Apakah berarti sebetulnya manusia tidak bisa lepas dari kekerasan ? Lalu, untuk menghaluskan citra kekerasan pada tinju manusia memanipulasinya sebagai olah raga dan hiburan ?

Jumat, 21 Juni 2013

cita-cita

Aku memiliki seorang keponakan, mario namanya. Seorang bocah yang menggemaskan layaknya bocah-bocah seusianya. Tapi, ada satu hal yang menarik dari tingkah polahnya keseharian, yakni cita-citanya. Yah, ia memiliki cita-cita yang lucu, tidak tinggi dan tidak keren, seperti kebanyakan anak-anak sebayanya.

Pernah suatu kali, ia kesana kemari mendorong-dorong kursi roda eyang kakungnya. Ketika kutanya, “adek tuh ngapo ?” lalu dia menjawab, “adek nih nak jadi tukang becak”. Gubrak... Sontak, aku tertawa terpingkal-pingkal. Cita-cita kok jadi tukang becak. Lalu kutanya, “ngapo kok nak jadi tukang becak ?” Ia pun menjawab, “adek seneng naik becak.”

Pernah pula, ia memakai baju eyang kakungnya. Kalungan rosario. Berjalan membawa gelas. Lalu, berhenti di depan orang-orang yang ia jumpai lalu berujar “ubuh kistus” Ha... Ha... Ha... Rupanya, sekarang, ia hendak jadi seorang pastor. Lumayan pikirku.

Pernah lagi, ia kembali mendorong-dorong kembali kursi roda eyang kakungnya. Kali ini, tidak cuma kursi roda tapi dilengkapi tutup panci bekas, sendok, dan beberapa keranjang mainan. Kemudian, dengan aksen cadelnya, nyaring berteriak sambil memukuli tutup panci bekas, “eis kim... eis kim...” Untuk kedua kalinya, gubrak...

Biasanya, setiap anak, selalu menjawab cita-cita yang tinggi dan keren bila ditanya apa cita-citanya. Jadi astronout. Pilot. Dokter. Insinyur. Polisi. Atau, menjadi tentara. Jawaban-jawaban itu sesuai sungguh dengan hakikat kata cita-cita itu sendiri, yakni suatu tujuan yang sempurna yang akan dicapai atau dilaksanakan. Bahkan, ada sebuah ungkapan yang mengatakan agar kita mengantungkan cita-cita setinggi bintang-bintang di langit.

Tapi, biasanya, meski tak semua, cita-cita seorang anak merupakan “paksaan” dari orang tuanya. Orang tua mendoktrin bahwa jadi tentara itu gagah karena bawa senjata. Jadi dokter itu mulia karena bisa ngobatin orang. Jadi dosen itu bergengsi karena kerjanya lebih pakek otak daripada okol. Ini itulah deh pokoknya... Atau, bisa juga anak menjadi tumbal kegagalan orang tuanya. Orang tua gagal jadi tentara terus anaknya didandani layaknya tentara.

Lalu, hal-hal tersebut ditanamkan terus-menerus dalam alam bawah sadar. Yah, semacam cuci otak. Bahkan ada pula orang tua yang sampai benar-benar memaksa si anak untuk menjadi seperti kehendak mereka. Yah seperti itu tadi, memakaikan baju tentara supaya besok anaknya jadi tentara. Ada pula yang mengeleskan anaknya piano supaya anaknya jadi musisi. Memaksa anaknya kuliah di fakultas ekonomi padahal anaknya senang bermusik.

Apakah suatu cita-cita harus tinggi, atau keren, atau sempurna ? Atau, haruskah selalu dijawab oleh anak-anak, ketika ditanya apa cita-citamu, menjadi dokter. Atau insinyur, atau tentara ? Mengapa tidak dibiarkan anak-anak memiliki cita-cita berdasarkan kesukaannya.

Aku memiliki kawan yang keluar dari kuliahnya di fakultas ekonomi. Gara-gara, ia ingin jadi aktor teater. Sementara, orang tuanya berharap ia memiliki gelar S1. Cita-cita itu membuatnya kemudian tak lagi mendapat uang kiriman bulanan. Untuk tidur, ia harus menumpang di kamar kost teman-temannya. Untuk makan, ia harus mendapat dari belas kasih teman-temannya. Nyatanya, berkat totalitas, kegigihan, dan bondho nekat, ia sukses. Selayaknya tidak perlu mempersoalkan cita-cita seorang anak, yang terlebih penting adalah memberikan jalan dan membantunya mewujudkan cita-citanya.

Minggu, 16 Juni 2013

BG 1912 E

Ada sebuah kebiasaan baru yang dalam beberapa bulan terakhir ini, baik secara sadar maupun secara spontan, kerap kulakukan yakni memandangi pelat nomor mobil. Entah saat mengendarai motor atau saat duduk manis di dalam mobil. Mataku selalu menjadi liar berburu saat berada di antara keramaian jalan. Hinggap di satu mobil dan cepat beralih ke mobil-mobil lainnya. Perburuanku terutama menargetkan mobil-mobil berwarna hitam, lebih khususnya lagi mobil yang bermerek terios. Yah, buruanku adalah sebuah mobil terios hitam.

Kebiasaan ini timbul bukan karena kegemaranku pada mobil terios. Bukan pula karena keinginanku memiliki mobil jenis tersebut. Tetapi, karena aku mencari mobil terios hitam milik ayahku yang hilang.

Ada yang mau tahu kenapa mobil itu bisa hilang ?

Begini ceritanya. Pada awal 2009, seorang bekas murid ayah menawarkan sebuah bisnis investasi, bertani uang katanya saat kali pertama menawarkan bisnis tersebut. Orang itu bernama eka efri saputra ( boleh dibaca bajingan tengik ). Saat itu, Ia memiliki sebuah perusahaan investasi berbentuk CV yang dinamai eka pioner. Dalam pemaparan, dijanjikan bila menginvestasikan sejumlah uang, minimal 10 juta rupiah, maka akan mendapatkan bunga 4% pada bulan ke tiga. Dan, bila bisa mengajak orang lain menjadi investor maka akan mendapat bagian bunga 1%. Lalu, bila bisa menginvestasikan minimal 300 juta rupiah maka dijanjikan akan beroleh bonus berupa mobil terios.

Karena bunga yang menjanjikan plus iming-iming bonus mobil maka ayah memutuskan menginvestasikan seluruh tabungannya. Beliau pun giat mencari down line untuk memenuhi target memperoleh mobil. Bahkan tak cuma itu beliau pun nekat meminjam uang di bank, dengan menggadaikan SK PNS-nya, untuk ditanamkan di bisnis investasi tersebut. Total uang yang terinvestasi sudah mencapai 170 juta rupiah, masih jauh panggang dari api. Tapi, karena sang bos adalah mantan muridnya maka perlakuan khusus pun diberikan. Ayah dijanjikan mendapat sebuah mobil terios, segera setelah mengurus syarat administrasi.

Sebuah kejanggalan yang kutemui saat ayah mengurusi syarat administrasi. Ternyata, mobil yang dijadikan bonus diperoleh dengan cara kredit, bukan dibeli tunai, yang lebih fatalnya semua dokumen kredit mengatasnamakan ayah. Jadi, dengan kata lain ayah lah yang mengredit mobil.

“Loh, mobilnya kreditan toh kung? Loh, kok semua dokumen ini pake nama kung? Kan ini hadiah jadi harusnya pake nama eka dong. Kalo ntar ada apa-apa gimana?” ujarku menegur kejanggalan ini.

“Cuma untuk administrasi tok,”  jawab ayah, singkat tapi sedikit dinadai jengkel.  Mungkin karena saat itu beliau tengah terbakar semangat memiliki mobil, yang selama ini tak pernah dimiliki oleh keluarga kami. Pun, karena watak keras kepala ayah, aku memutuskan tidak untuk meneruskan pertanyaan-pertanyaan.

Sekitar awal Januari 2012, mobil pun datang. Mobil terios hitam. Ayah tersenyum bahagia. Dan juga kedua keponakanku, Laura dan Mario, bukan kepalang gembira bak menyambut kedatangan anggota keluarga baru. Tiap saat selalu saja mereka minta naik mobil. Dan, ayah serta aku dan mbakku turut pula naik mobil. Hidupkan mesin. Hidupkan AC. Hidupkan radio. Mobilnya gak jalan gak masalah. Hmmm... beramai-ramai menghirup aroma kemewahan.

Satu minggu setelah kedatangan mobil aku pun dipaksa ayah kursus setir mobil. Siapa yang tidak mau. Aku lalu belajar nyopir di kursus setir dekat GOR Gelora Serame. Juga belajar nyopir dengan om Samiyo. Setelah mahir, kami sekeluarga hampir tiap hari selalu berkeliling kota menikmati kemewahan.

Bulan berganti. Hari pun berlalu. Setelah kurang lebih mobil sudah delapan bulan bertengger di garasi, pembayaran cicilan dari Eka Pioner mulai seret. Malahan pernah ayah harus merogoh dari kocek sendiri. Sama halnya dengan pembayaran profit kepada investor.

Sampai pada suatu hari di bulan oktober, eka efri saputra menelepon ayah. Ia  bermaksud meminjam mobil untuk akomodasi dalam rangka memperluas jaringan bisnis di Lampung. Orang itu berjanji mengembalikan mobil dua bulan kemudian. Atas dassar percaya, ayah lalu memberikan dengan sukarela.

“kagek idak dibaleke loh kung,” ujar mbakku, saat itu, mengingatkan ayah. Ayah cuma diam. Dan, tetap memberikan kunci mobil. Sampai tulisan ini dibuat. Mobil belum kembali. Dan, entah dimana mobil itu berada. Padahal segala cara sudah ditempuh untuk mencari. Mulai dari minta tolong teman yang seorang polisi. Sampai menyewa buser. Terakhir, enam bulan setelah mobil dipinjam, ayah melaporkannya ke kepolisian sebagai mobil hilang.

Entah sampai kapan mataku ini tidak lagi jadi liar saat di jalanan. Berburu. Hinggap dari satu mobil ke mobil yang lain. Mengincari mobil-mobil berwarna hitam. Tepatnya, terios hitam bernomor polisi BG 1912 E.

Selasa, 11 Juni 2013

Masyarakat Bergunjing

Tanpa disadari kita hidup dalam masyarakat yang sangat menggemari bergunjing. Memperbincangkan orang lain. Mulai dari model rambut. Make up yang terlalu tebal. Kaca mata yang terlalu mencolok. Pakaian yang norak. Cara berjalan yang lebay. Apa saja. Selalu saja ada hal dan orang yang dipergunjingkan.

Dan, di mana saja selalu bertemu dengan orang-orang yang sangat suka menggunjing orang lain. Tidak di kantor. Tidak di arisan. Tidak di rumah. Tidak saat bekerja. Tidak saat bersantai. Tidak saat memasak. Bergunjing sungguh tidak mengenal ruang dan waktu.

Gunjingan mengalir deras seperti aliran sungai. Dari mulut bergincu tebal sampai mulut beraroma rokok. Hinggap di telinga satu ke telinga lain. Cepat. Bahkan kabarnya lebih cepat dari membuat teh celup.

Gunjingan juga seperti jelangkung. Datang tak diundang pergi tak diantar. Selalu muncul hal menarik yang digunjingkan. Muncul lagi. Padahal masalah yang lama sebelum sempat diverifikasi dan klarifikasi.

Memang harus diakui bila menggunjingkan orang lain digemari banyak orang karena merupakan perpaduan antara jadi detektif sekaligus wartawan. Membongkar sebuah misteri. Top Secret. Lalu jadi hakim. Mengatakan ini bener dan ini gak bener. Lalu jadi ustad. Harusnya begini dan harusnya begitu.

Bahkan, lalu kesukaan bergunjing ini terbaca oleh bisnis, terutama bisnis hiburan, selanjutnya dikemas jadi produk andalan. Lihatlah di televisi, beragam tayangan yang bergunjing. Ada cek & ricek, silet, Kiss, insert dan masih banyak lainnya. Bisnis, sepertinya, berlomba-lomba mengajari dan memprovokasi masyarakat bergujing.

Artis yang berulang tahun. Digunjingkan, mulai dari pesta ulang tahun yang terlalu foya-foya, menghambur-hamburkan uang. Hadiah mewah yang didapat. Atau, karena perilaku hedonisnya. Seorang artis yang makan siang. Digunjingkan, makan dengan siapa. Dimana? Makan apa aja. Emang penting ! Lalu, artis yang jalan-jalan. Juga digunjingkan. Artis yang putus cinta. Digunjingkan lagi. Artis yang hendak menikah. Digunjingkan pula. Semua digunjingkan. Semua dikemas jadi berita. Berita heboh. Semua diungkap. Semua ditelajangi. Tanpa batas. Huh... lama-lama ada artis yang beol juga digunjingkan pula. Wuuu... Wesenya keren. Wuuu... tainya wangi. Wuuu... ini ! Wuuu... itu ! pokoknya wuuu... deh !

Kadang kala terasa jenuh. Sebal. Bila masalah kecil dan gak penting mulai  dipergunjingkan seolah-olah hal itu penting. Tapi kadang kala tanpa disadari terjebur juga. Basah kuyub di kedalaman pergunjingan. Hingga pada suatu titik, tersembul sebuah pertanyaan. Mengapa kita bergunjing ?

Bergunjing, menurut KBBI, berarti berbicara ( beromong-omong ) tentang kejelekan ( kekurangan ) seseorang dan sebagainya. Bila dianalisa secara sederhana, manusia adalah mahluk sosial. Sebagai mahluk sosial, manusia hidup di antara atau bersama-sama dengan manusia lain. Dalam kebersamaannya dengan manusia lain, seorang manusia pasti akan berelasi. Relasi tersebut salah satunya dengan cara berbicara. Berbicara apa saja. Bisa  tentang keluarga. Atau, tentang kebiasaan. Atau, tentang pengalaman. Semakin komplek kehidupan manusia semakin komplek pula hal yang dibicarakan. Nah, bisa jadi salah satu yang dibicarakan tentang kejelekan orang lain.

Pertanyaan selanjutnya, mengapa dia, aku, mereka, atau semua menyukai bergunjing ?

Seseorang merasa dirinya diakui oleh orang lain saat dirinya up date. Saat ia mengerti informasi terbaru ini-itu tentang seseorang yang tidak diketahui oleh orang lainnya. Bukankah bila kita melihat hirarki kebutuhan maslow, pengakuan orang lain dan aktualisasi diri merupakan kebutuhan puncak seseorang. Di saat makanan, pakaian dan tempat tinggal bukan lagi masalah maka seseorang akan memenuhi kebutuhannya akan pengakuan dari orang lain.  Dan, jika kebutuhan tersebut terpenuhi maka manusia mencapai kepuasan. Itulah yang membuat orang suka bergunjing.

Lalu, apakah bergunjing itu salah ?

Bila berdasar pada pemikiran Aristoteles (384-322 SM), bahwa manusia adalah binatang yang rasional (rational animal). Hal yang membedakan manusia dari hewan adalah kemampuannya untuk menggunakan akal budi, guna membuat keputusan dan memahami dunia tempat tinggalnya. Selanjutnya, manusia bisa menjadi manusia seutuhnya, karena ia mampu berpikir, dan bertindak seturut dengan pikirannya itu (Reza AA Watimena). Maka, bergunjing bisa menyebabkan manusia salah membuat keputusan dan memahami dunia tempat tinggalnya. Mengapa ? Karena keputusan tidak dibuat berdasarkan akal budi tetapi karena menjadikan pergunjingan sebagai data dalam mengambil keputusan. Dan, ketika seorang manusia salah membuat keputusan dan memahami dunia tempat tinggalnya, relasi dengan manusia lain atau masyarakatnya bisa terganggu. Oleh karena itu kerap dijumpai ada pertengkaran antar anggota masyarakat yang awalnya disebabkan oleh bergunjing.

Nah... makanya jangan suka bergunjing. Ngomong apa adanya. Ngobrolin hal-hal yang baik aja dari orang lain. By the way tahu gak kalau bela, tetangga sebelah, ternyata simpenan om-om loh ?

Jumat, 31 Mei 2013

Digigit nyamuk

Suatu waktu saat mengikuti sebuah misa kudus, karena misa tersebut diadakan di ruangan terbuka dan menjelang malam hari maka serbuan nyamuk yang luar biasa menjadi sebuah persoalan. Dan, mungkin pula karena bau badanku yang agak berbeda dari kebanyakan orang maka aku pun menjadi pilihan favorit santapan malam para nyamuk. Selanjutnya konsentrasi pun mesti dibagi, separuh untuk Tuhan lalu separuh lagi untuk nyamuk. Ada maksud tertahan untuk membunuh nyamuk mengingat menjadi hal yang paradoks bila membunuh nyamuk yang mahluk Tuhan di tengah merayakan misa kudus untuk bersyukur pada Tuhan. Jurus-jurus ringan lalu dipakai untuk mengusir mereka. Dan, terlebih jangan sampai mematikan mahluk tersebut.

Tapi, kata pepatah sedalam-dalamnya laut berdasar, setinggi-tingginya gunung berpuncak. Kesabaran pun ada batas. Kejengkelan yang sudah meluap mencapai ubun-ubun memaksaku untuk mengeluarkan jurus pamungkas yang mematikan dan dengan secepat kilat, teplok...!!! Mampuslah nyamuk yang tengah menikmati darahku di sekitar punuk.

Dan tiba-tiba pula teman disebelahku wuuusss... berubah, menjelma jadi malaikat, lalu ia bersabda “misa kudus kok membunuh nyamuk. Kontra Produktif tau !” Aku melongo. Keheranan. Ada lingkaran putih terang melingkari di kepalanya. Wajahnya bersinar terang pula.

“Ups, tunggu dulu. Bukan sembarang maksud aku membunuh nyamuk,” ujarku membela diri. “Lalu...?” sahutnya.

“Aku justru menyelamatkan orang banyak dari api neraka.” Aku menjelaskan padanya. “Maksud lo ?” sahutnya lagi.

“Yah kamu bayangin deh. Dari sekian banyak orang di sini berapa orang yang terpaksa tidak konsentrasi karena gigitan nyamuk. Bila di asumsikan di sekitar tempat ini ada sepuluh nyamuk masing-masing menggigit sepuluh orang berarti ada seratus orang yang digigit. Berarti pula ada seratus orang yang tidak konsentrasi mengikuti misa. Berarti pula ada seratus calon penghuni neraka.” Ucapku panjang lebar sampai berbusa.

“Itu yang pertama. Ini yang kedua, dengan nyamuk itu mati berarti ia mati mulia. Ia akan bereinkarnasi menjadi mahluk yang lebih tinggi derajatnya. Nah... berarti aku membantunya memangkas lingkar karmanya dan mengangkat derajat kemuliaannya.” Ucapku kembali panjang lebar sampai memuncratkan air liur.

“Tapi kamu lupa saudaraku.” Jawabnya singkat. Aku menyahuti, “apa itu ?”

“ Yang bisa ia lakukan cuma bisa menggigit. Dengan menggigit, ia bisa makan. Dengan menggigit, ia mempertahankan hidup. Kalau bisa bicara maka pasti ia akan mengemis darah padamu. Kalau bisa bekerja ia akan bekerja lalu dapat uang lalu beli darah di PMI.” Ujarnya. Lalu ia berkata lagi, “lagian kan gak rugi juga darahmu disedot setitik aja kan kamu gendut. Pasti, banyak darahnya. ”

“Asem kau...”

Tapi betul juga yah kalau dipikir-pikir. Kadang kita menyalahkan orang lain atas apa yang ia kerjakan atau lakukan padahal hal itu adalah keterbatasanya, misalnya “hoi...kalau dibilangin orang tua jangan melotot matanya!” tapi ternyata emang orang itu matanya belok. Hmmm... memang kadang kita berprilaku tidak adil pada orang lain.

“Mas mbok tenang saat misa kudus ! Udah usreg terus. Ngomong terus pula.” Buset bapak disebelahku sewot karena terganggu pembicaraan kami. Lagi-lagi aku tidak adil pada orang lain. Yang digigit nyamuk aku, orang lain yang jadi terganggu.

Rabu, 29 Mei 2013

mimpi

Banyak hal yang bisa ditafsirkan dari mimpi. Pertama, mimpi secara harafiah berarti sesuatu yang terlihat atau dialami dalam tidur, misalnya mimpi dikejar hantu atau mimpi mendapat undian berhadiah. Orang kerap berkata bila mimpi seperti ini sebagai kembang tidur.

Kedua, mimpi bisa pula diartikan sebagai angan-angan atau cita. Suatu tujuan ideal yang akan dicapai atau dilaksanakan, misalnya seorang bocah bermimpi jadi dokter atau pilot. Para motivator bilang mimpi seperti ini merupakan modal dasar untuk berusaha mencapai kesuksesan. Karena katanya orang sukses itu berawal dari mimpi.

Ketiga, mimpi pun bisa diartikan sebagai khayalan, berangan yang bukan-bukan, misalnya seorang yang malas bekerja lalu bermimpi jadi orang kaya. Biasanya, kebanyakan orang lalu akan ramai-ramai berteriak “ngimpi...”

Selanjutnya, percayakah anda pada mimpi ?

Harus percaya menurutku, bukankah pesawat terbang merupakan perwujudan dari mimpi-mimpi Wright bersaudara. Indonesia merdeka pun buah dari mimpi Soekarno dan para pemuda saat itu. Greg S. Reid, seorang penulis best seller yang juga seorang wirausaha dan CEO beberapa perusahaan pernah mengatakan “bermimpilah yang besar, dan jangan berhenti sebelum mencapai puncak”.

Mimpi adalah misteri. Meskipun, mimpi hadir dalam sejarah panjang kehidupan manusia. Banyak diantaranya yang mencoba menyelidiki. Berbagai usaha dilakukan untuk memahami mimpi, baik fungsi maupun artinya. Mulai dari meramal arti mimpi seperti Yusuf yang menjelaskan arti mimpi Firaun. Sampai menciptakan mesin poligraf untuk mencatat gelombang otak.

Beberapa diantaranya mencoba merumuskan apa itu mimpi, antara lain Aristoteles (384-322 SM), menurutnya mimpi merupakan aktivitas mental ketika seseorang tidur. Sementara dalam buku The Interpretation of Dream,  Sigmund Freud (1856-1939) menyatakan bahwa mimpi adalah penghubung antara kondisi bangun dan tidur. Mimpi merupakan ekpresi yang terdistrosi atau yang sebenarnya dari keinginan-keinginan yang terlarang diungkapkan dalam keadaan terjaga. Dan, Carl Gustav Jung (1875-1961) dalam bukunya Memories, Dreams, Reflections berpendapat bahwa mimpi merupakan cara berkomunikasi yang membawa informasi dari tahap bawah sadar ke tahap sadar.

Ilmu pengetahuan baru pun lalu terlahir, oneirologi. Menurut Wikipedia, oneirologi adalah cabang ilmu pengetahuan yang meneliti tentang mimpi. Cabang ilmu pengetahuan ini juga mencoba mencari korelasi antara mimpi dengan fungsi otak, serta pemahaman tentang bagaimana cara kerja otak selama seseorang sedang bermimpi dan kaitannya dengan pembentukan memori dan gangguan mental. Studi tentang oneirologi berbeda dengan studi tentang analisis mimpi, tujuan dari studi oneirologi adalah untuk mempelajari proses terjadinya sebuah mimpi dan cara kerja sebuah mimpi bukannya menganalisis makna sebuah mimpi.

Omong-omong soal mimpi, aku punya seorang teman yang begitu sangat percaya dengan mimpi. Setiap pagi, selalu ia bertanya pada orang yang dijumpai kali pertama, “mimpi apa kau semalam ?” Segera setelah itu, ia segera disibukkan menafsir mimpi, lalu memanipulasinya menjadi data kuantitaif tiga digit angka togel.  Tidak tahu bagaimana hasilnya, tembus atau tidak. Tapi ia begitu percaya pada mimpi-mimpi orang lain dalam rangka mewujudkan mimpi dirinya jadi orang berduit.

Aku jadi ingat saat negeri ini melegalkan perjudian lewat SDSB (Sumbangan Dana Sosial Berhadiah). Saat itu ada sebuah buku tebal yang dikitabsucikan oleh para penggemar berat SDSB. Buku tebal itu berisi tafsir mimpi. Jadi misal bermimpi monyet berarti angka yang keluar 32. Bila bermimpi babi berarti angka yang keluar 40. Bagaimana jika bermimpi babi betina beranak lima ekor, tiga betina warna hitam, dua lagi warna belang-belang, dua anak babi warna hitam jantan, sedang sisanya betina. Berapa yah angka yang keluar ?

Kamis, 09 Mei 2013

Sang Guru : Suatu refleksi dari sang murid...

Menjadi guru pada awalnya bukan suatu cita-cita. Mengapa ? Karena bapak dan ibuku adalah seorang guru. Meski boleh dibilang keluarga kami tidak hidup berkekurangan tapi hidup kami tidak berkelebihan tapi tidak lantas bisa dibilang berkecukupan karena bapak dan ibuku juga seringkali berhutang di sana-sini. Hal ini lah yang membuatku tidak ingin menjadi guru karena guru identik dengan kekurangan secara ekonomis. Tapi, mengapa sekarang bisa berprofesi sebagai guru?

Ini yang kusebut sebagai kecelakaan sejarah hidup. Akan kuceritakan mengapa ini kusebut kecelakaan sejarah, aku kuliah mengambil ilmu akuntansi murni (Fak. Ekonomi) bukan keguruan (FKIP) keputusan ini menjadi penanda bahwa aku memang tidak berniat jadi guru dan merajut kisahku sebagai guru.

Berawal setelah selesai kuliah, dengan status baru yaitu seorang pengangguran yang mencari kerja, aku pun mengirimkan banyak surat lamaran kerja ke berbagai perusahaan tapi tidak satu pun menanggapi. Dalam penantian panjang dan digumuli keputusasaan kemudian terujar kata dalam doa novenaku bahwa aku akan menerima apa pun kerja yang ditawarkan kali pertama, menjadi guru pun gak masalah daripada jadi pengangguran. Tapi, tetap pula tiada kunjung datang panggilan kerja. Lantas, almarhum ibu menasehati untuk mengikuti program akta empat. Menurut beliau, siapa tahu gak bisa kerja di perusahaan mungkin bisa kerja di sekolahan, jadi guru. Uuuhhh...  yah terpaksa aku ambil juga tawaran ini tetapi bukan karena aku sudah membuka hati untuk profesi guru tapi itung-itung bisa deket dengan pacarku yang masih kuliah. Dan, aku pun mendaftar program akta 4 di UNY. Tetapi ternyata Bapa di surga berpendapat lain, sepulang mendaftar dari UNY, salah seorang teman SMPku menelepon menawarkan menjadi guru di Lampung,  menggantikannya karena ia diterima jadi pegawai negeri. Singkat kata, aku mengambil tawaran itu dan aku pun lantas jadi guru.

Dalam perjalananku menjadi guru banyak kegelisahan yang bertubi-tubi menancapi hati dan pikiranku, ternyata menjadi guru tidak mudah, bukan sekedar suatu profesi untuk mengumpulkan pundi-pundi rejeki belaka, ada tanggung jawab moral di dalamnya, bahkan sangat besar. Maka tulisan ini kubuat setelah beberapa tahun dipaksa oleh  nasib harus nyemplung bergelimpangan dalam keguruan. Pun, tulisan ini lahir sebagai salah satu dari buah refleksi tak henti di dalam perjalanan (belum) panjangku saat memilih profesi guru. Dan, tulisan ini terinspirasi setelah mengikuti seminar sehari “Sang Guru Sang Peziarah” yang dibawakan oleh A. Mintara Sufiyanta S. J. atau kerap disapa Romo Min. Dalam seminar tersebut, ada kalimat menarik yang terungkap oleh Romo Min yaitu “...pada awalnya kita tidak dipanggil sebagai seorang guru tetapi pertama-tama kita dipanggil sebagai seorang murid...” Sebuah kalimat sederhana tapi tak terduga dan tidak pernah disadari sebelumnya. Oleh karena itu, refleksi ini kuawali dari fase ketika menjadi seorang murid.

Masa kanak-kanakku kuhabiskan di TK dan SD Santo Yosef Lahat . Tidak ada sosok para guru yang terasa begitu spesial dan membuatku menempatkan salah satu dari mereka menjadi guru favorit selama kurun waktu dari taman kanak-kanak sampai sekolah dasar. Ada tiga alasan yang mendasarinya yaitu pertama, aku adalah salah satu dari beberapa anak yang tidak suka sekolah. Kedua, almarhum ibu selalu menasehatiku untuk lebih menyukai pelajaran dari pada gurunya. Dan ketiga , para guru-guru itu adalah anggota lingkar komunitas sosialku alias tetangga-tetanggaku jadi setiap hari kujumpai jadi bosan aku liatnya, di sekolah lihat mereka dan sepulang sekolah juga liat mereka. Meskipun tidak memiliki guru favorit, tapi ada beberapa sosok guru yang tersangkut dalam kenanganku sebagai murid.

Pertama, adalah almarhum suster Ursina C.B., beliau adalah sosok guru yang selalu hadir dalam kenanganku sebagai murid karena beliau adalah satu-satunya guru yang pernah kugigit. Berawal dari ibuku terlambat mengantarkan ke sekolah karena beliau sedang banyak tugas di sekolah dan sifat pemaluku membuat aku tidak mau masuk sekolah saat melihat teman-teman sudah berbaris rapi di depan kelas. Karena melihat aku mutung tidak mau sekolah, maka suster Ursina membopongku, aku meronta-meronta sekuat tenaga, semakin kuat pula beliau membekapku, dan senjata terakhir pun kuhunus, dengan sekuat tenaga kugigit tangannya dengan gigi geripisku. Satu kalimat yang terungkap yang masih kuingat, beliau berteriak kesakitan “woo... anakmu nyokot... “.

Kedua, adalah ibu Marjiem, lengkapnya Martina Marjiyem, beliau adalah guruku kelas satu SD, beliau sosok yang lemah lembut dalam tutur kata dan tindakan. Beliau tidak memarahi dan menghukumku saat aku membolos sekolah selama satu minggu. Begini ceritanya, bagiku sekolah merupakan beban karena setiap hari selalu ada PR dan aku malas mengerjakannya maka ketika seorang teman mengajak membolos aku pun mengiyakan. Bermula dari kejadian ini, selalu selepas ibuku mengantarkan sampai gerbang sekolah aku lalu mengendap-endap pulang ke rumah. Dan, ini menjadi kegemaran baruku. Genap satu minggu aku menjalani kegemaran baru ini, Ibu Marjiyem menemui ibuku menanyakan alasan ketidakhadiranku di sekolah. Dan sepulang kerja ibu langsung memberikan sarapan tebah, sapu lidi untuk membersihkan kasur, ke pantatku.

Ketiga, adalah pak Daud. Beliau adalah guru bahasa indonesiaku. Dua hal yang kusukai dari beliau adalah (1) beliau tidak pernah memberi PR sesudah mengajar dan (2) beliau sangat suka bercerita dengan mimik wajah dan gerak-gerik yang lucu. Itulah sosok guru yang memiliki kenangan tersendiri dan tanpa mengurangi rasa hormat kepada bapak dan ibu guruku lainnya yang sekuat tenaga dan pikiran sudah mendidikku dari taman kanak-kanak sampai sekolah dasar, kalian tetap hidup dalam kenanganku.

Ketika menginjak SMP, aku bersekolah di SMP Santo Yosef. Kuawali bersekolah disini dengan hal yang kurang menyenangkan, ibuku didiagnosis menderita kanker payudara dan harus mengalami perawatan panjang, salah satunya di Yogyakarta. Hal itu yang membuatku merasakan bersekolah di SMP Stella Duce 1 Yogyakarta meski cuma satu semester untuk menemani ibuku yang dirawat di RS Panti Rapih. Tetapi itu sekaligus jadi anugerah karena membawaku pada petualangan baru sekaligus bisa mengenali banyak orang-orang baru. Saat bersekolah di SMP Stella Duce 1, ada seorang ibu guru yang sangat sabar mengajariku bahasa jawa. Namanya lupa aku tapi wajahnya samar-samar masih kuingat. Beliau, begitu lemah lembut dan telaten, mengajariku meski aku tidak bisa-bisa. Maklumlah susah dan tidak terbiasa menggunakan bahasa jawa.

Selanjutnya, sisa waktu yang lain aku habiskan belajar kembali di SMP Santo Yosef Lahat. Semasa bersekolah di SMP Santo Yosef, tidak ada guru yang aku posisikan jadi guru favorit. Ya kalau sekedar suka sih ada satu dua tapi, ambil saja contohnya bapak Leo Supardi. Beliau mengajar agama. Aku menyukainya karena beliau senang sekali bercerita tentang petualangan di masa mudanya dan satu hal yang menyenangkan yaitu beliau jarang sekali memberiku tugas rumah alias PR. Lalu, guru selanjutnya yang aku sukai yaitu ibu Ririn, nama lengkapnya adalah Asteria Rinawati. Aku menyukainya karena wajahnya yang cantik, suaranya merdu, lemah lembut, dan sabar. Beliau adalah wali kelasku di kelas 2B sekaligus mengajar bahasa Indonesia. Oh yah, di SMP ini aku diajar oleh ayahku sendiri. Tapi, tahu tidak ? Aku tidak suka diajar oleh beliau karena beliau selalu tak mengacuhkanku bila aku menunjuk jari untuk menjawab pertanyaannya. Menyebalkan bukan.

Ah, meski begitu ada beberapa guru yang melekatkan kesan misalnya pak Bani Ismail yang bila mengajar fisika ia selalu berteriak-teriak, melucu, bahkan pura-pura berantem bila mengajar bersebelahan dengan pak Sulham, atau ibu Yeni yang bisa mengenali tulisan semua muridnya, atau ibu Lastri yang senang sekali berkata “goblok kok dipelihara...”, atau ibu Christin yang selalu menyebutkan Indonesia dengan tidak sempurna, Indonesa... ujarnya.

Sewaktu bersekolah di SMA Pangudi Luhur Van Lith, sama dengan masa SMP, aku pun tidak memiliki guru favorit. Ada beberapa guru malahan yang kurang kusukai, dan kuberi cap tebal-tebal, menyebalkan. Beliau adalah bapak Arif, A. Arif Budianto nama lengkapnya. Beliau mengajar matematika sekaligus wali kelasku di kelas 1A. Badannya tinggi besar, alisnya tebal, jika berbicara suaranya menggelegar bikin mental menjadi ciut. Dan, beliau suka betul memberi pekerjaan rumah. Padahal, saat awal-awal tinggal di asrama aku membutuhkan adaptasi luar biasa dari kebiasaan hidup di luar asrama yang semau gue berubah jadi kebiaasan hidup asrama yang serba teratur dan terjadwal. Belum lagi harus beradaptasi dengan lingkungan sosialku, teman baru dan budaya baru. Sungguh merepotkan. Ada satu lagi kesukaan dari bapak Arif yaitu berkata “Telo...” bila muridnya tidak bisa mengerjakan tugas yang diberikan.

Selanjutnya, guru yang kurang kusukai, dan juga dapat cap menyebalkan adalah bapak Wahyu, nama lengkapnya adalah A.M. Wahyu Hendranata. Hal yang menyebabkan aku kurang menyukai beliau adalah pertama, karena pilih kasih. Senang sekali pak Wahyu memberikan pertanyaan lalu menunjuk siswi yang cantik padahal aku sudah menunjuk jari tinggi sekali. Kedua, susah sekali aku memahami caranya mengajar. Emang sih aku termasuk siswa yang kurang pandai, tapi menurutku bagaimana bisa pandai dan memahami pelajaran jika gurunya tidak pandai menerangkan. Bukan berarti para guru di masa SMA ku dulu tidak menyenangkan semua. Ada pula guru yang patut diberi jempol sebut saja bapak Agung, Ibu Cosma, Bapak Ratin, dan Ibu Biyanti.

Semasa SMA ini, aku punya guru yang super cantik, aduhai pokoknya, sebut saja Ibu Roli dan Ibu Eni Sugiarni. Ada pula pak Toro yang suka melawak walau kadang harus diakui sedikit jayus tapi kami senang sekali menertawai terbahak-bahak, lumayan agar nilai geografi jadi bagus. Ada bapak Agung yang senang sekali bernyanyi lagu-lagu klasik rock seusai jam pelajaran bahasa inggris. Ada guru yang kami juluki kimpul karena tubuhnya yang pendek dan gemuk. Ada yang kami juluki si otong karena tinggi tubuhnya setengah dari rata-rata tinggi kami saat itu. Ada yang kami juluki perbakin (persatuan batuk kinclong) karena jidatnya yang licin dan mengkilap.

Ah... tapi semua itu dulu. Saat aku menjadi murid dan masih kanak-kanak. Saat aku menjadi guru, kusadari bahwa guru adalah manusia biasa yang tak luput dari kelemahan. Ternyata juga kusadari bahwa sosokku sebagai guru rupanya begitu dekat dengan sosok guru yang kurang kusukai alias menyebalkan.
Sebagai murid, aku sangat menyukai sosok guru yang lemah lembut, sabar, tidak mudah marah seperti Ibu Marjiyem, Ibu Ririn, dan guru bahasa jawaku. Seorang murid juga sangat menyukai guru yang pandai bercerita, menceritakan apa saja tentang pengalaman dan kehidupan, layaknya Bapak Daud dan Bapak Leo Supardi. Seorang murid tidaklah menyukai sosok guru yang suka marah-marah, dan menakuti murid.
Tulisan ini dibuat bukan untuk mengurangi rasa hormatku atas peran besar mereka memberikan pengetahuan padaku. Tapi, sebagai refleksi seorang guru takala jadi seorang murid.